Suatu hari seorang nenek terbujur di kamarnya sendirian. Ia mengalami penderitaan yang sangat hebat. Tetapi ia masih tetap bertahan. Ia ingin melewati hari-harinya dengan penuh harapan. Satu-satunya yang mau ia katakan adalah ia ingin berdamai dengan putranya.

Sewaktu anaknya itu berusia duapuluh lima tahun, ia bertengkar hebat dengannya. Akibatnya, putranya itu meninggalkan rumah. Ia pergi merantau. Ia tidak pernah kembali lagi. Ia pun tidak tahu di mana keberadaan putranya itu.

Hati nenek itu sangat sedih. Perdamaian dengan putranya yang ia dambakan belum terwujud. Bertahun-tahun sudah ia menyesali peristiwa itu. Namun semuanya hanya penyesalan. Belum mewujud dalam perdamaian yang sesungguhnya. Karena itu, hatinya masih terasa pedih.

Dalam kondisi seperti itu, sang anak tiba-tiba muncul di hadapannya. Bukan sebuah ilusi. Tetapi wajah anaknya sungguh-sungguh menghiasi pelupuk matanya. Anaknya itu menyapa, “Mama… Aku pulang. Mama masih ingat peristiwa dulu itu? Anakmu tidak ingat lagi.”

Sang mama langsung memeluk anaknya. Damai pun terjadi hari itu. Ia dapat merasakan suasana sukacita dan damai. Seluruh kepedihan hatinya terobati oleh perjumpaan yang sungguh-sungguh menyenangkan itu. Tidak ada lagi yang merasa terluka. Semua luka itu sembuh dalam sekejap saja.

Banyak orang menyimpan kepedihan hati yang telah berlangsung bertahun-tahun. Mereka merasa bahwa dengan cara itu mereka akan merasa puas untuk melampiaskan kemarahan mereka terhadap orang yang mereka benci. Mereka merasa bahwa dengan cara itu mereka dapat mengungkapkan kebencian mereka terhadap sesama.

Tentu saja sikap seperti ini bukanlah cerminan dari orang yang beriman kepada Tuhan. Orang beriman itu selalu mengaku dengan mulut bahwa Tuhan itu mahapengasih dan mahapengampun. Kalau ini menjadi ungkapan isi hati manusia, mengapa manusia masih mau menyimpan dendam? Mengapa manusia masih mau membalas kebencian dengan kebencian?

Kisah anak dan ibu di atas mau mengatakan kepada kita bahwa damai hanya bisa dicapai, ketika orang rela mengampuni. Luka batin hanya bisa disembuhkan oleh kerelaan untuk menerima sesama dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Orang mau dengan besar hati menerima kehadiran sesama yang pernah membuat luka dirinya.

Matius 5: 39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memiliki hati yang lemah lembut dan rendah hati. Orang yang mau membuka hatinya lebar-lebar bagi sesamanya. Hanya dengan cara itu, kita dapat menjadi orang yang beriman teguh dan tangguh dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *