Penulis: Pram

Suatu hubungan yang sehat membutuhkan waktu dan komunikasi agar dapat berkembang, demikian juga hubungan kita dengan Allah. Tidakkah cukup dengan membaca atau belajar tentang Tuhan? .

Hubungan adalah tentang pengalaman. Namun, luka yang kita miliki dari hubungan kita dengan orang-orang yang patah hati telah menggeser konsep kita tentang bagaimana hubungan yang sehat itu sebenarnya.

Orang-orang mungkin merasa ditolak, dilecehkan, disalahpahami, tidak penting, dilupakan, tidak disukai, atau merasa tidak berharga dalam hubungan mereka. Ketika kita terluka, kita dapat secara sadar memproyeksikan hubungan pengalaman disfungsional kita kepada Tuhan, percaya bahwa Ia akan memperlakukan kita dengan cara yang sama.

Pengalaman awal luka kita, terutama dengan orangtua atau saudara kita, membuat cetak biru dalam otak kita tentang bagaimana seharusnya hubungan-hubungan itu berfungsi. “Aturan” dari hubungan ini mungkin meliputi: “Orang-orang meninggalkan saya.”. “Para pria tidak menghormati saya”.

“Orang-orang berbohong”. “Saya tidak layak untuk dikenal atau dilihat”. “Tidak aman untuk berbagi perasaan saya”. “Saya tidak dicintai”. Terobosan di situasi padang gurun tersebut datang ketika kita menyadari bahwa hubungan kita dengan Tuhan benar-benar berbeda dari apa yang telah kita alami.

Tuhan ingin mengajar kita untuk mengetahui bagaimana hubungan yang nyata serta sehat itu sebenarnya. Dan, hubungan itu lebih baik daripada yang bisa kita bayangkan.

Berikut ini adalah beberapa pemikiran yang perlu disadari ketika Anda menyesuaikan visi Anda : Pertama, Tuhan tidak meninggalkan kita dalam kegagalan kita. Sebaliknya, Ia setia dan mencintai dengan tanpa syarat serta tidak memiliki batas untuk cinta-Nya.

Tuhan selalu memanggil kita untuk datang kepada-Nya, tidak peduli di mana kita berada. Yesus akan menjumpai Anda di titik terendah Anda, tetapi Ia tidak akan memperlakukan Anda seolah-olah Anda kurang berharga.

Banyak orang Kristen merasa malu atau takut untuk mendekati Tuhan saat sedang mengalami kekeringan rohani karena mereka merasa gagal dan mencoba untuk mengantisipasi penolakan atau kemarahan Allah.

Namun, Tuhan menghargai hati yang bertobat lebih dari kinerja yang sempurna. Ia adalah Bapa yang penuh kasih yang siap untuk merangkul Anda dalam kelemahan Anda. Ia tidak akan menolak Anda karena Ia telah mengadopsi Anda selamanya sebagai anak-Nya.

Kedua, hubungan melibatkan komunikasi dua arah. Tuhan ingin berkomunikasi dengan Anda secara jujur dan Ia ingin supaya Anda menanggapinya. Ia menciptakan Anda untuk memiliki hubungan, dan itu termasuk kemampuan untuk mendengar Dia.

Yohanes 10 menyatakan bahwa Yesus adalah Gembala yang Baik, dan bahwa kita adalah domba yang mengetahui dan mengenali suara-Nya. Tuhan ingin berbagi hati dan pikiran-Nya dengan Anda, dan Ia ingin Anda melakukan hal yang sama terhadap-Nya.

Ketiga, Allah ingin menghabiskan waktu dengan Anda. Ia menikmati hubungan dengan Anda. Anda benar-benar dikenal oleh Allah dan tidak pernah secara salah dipahami oleh-Nya.Keempat, Anda begitu dihargai oleh Allah sehingga Ia memperlakukan Anda dengan hati-hati.

Terakhir, Anda bukanlah beban bagi Allah. Seperti Bapa yang baik, adalah suatu sukacita bagi-Nya untuk memenuhi permintaan dari anak-anak-Nya. Jika Anda merasakan kekeringan rohani, beritahukanlah kepada Allah dan mintalah Ia untuk mengisi jiwa Anda.

Allah senang membangun, menghibur, dan memulihkan. Untuk menangkis kebohongan, bertanyalah kepada Allah, “Bapa, bagaimanakah Engkau memperlakukan saya? Seperti apakah rasanya menjalani hubungan dengan-Mu?”.

[Sumber:www.sabda.org/Foto:Istimewa]

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *